Ketika Gaji Menjadi Amanah: Renungan Bagi Perangkat Desa dalam Pandangan Islam

Lensaviralnews.com — Gaji yang kita terima setiap bulan bukanlah sekadar angka yang masuk ke rekening. Di balik setiap rupiah, tersimpan harapan keluarga, doa anak istri, amanah dari masyarakat, dan kelak akan menjadi pertanyaan di hadapan Allah SWT. Terlebih bagi perangkat desa—profesi yang bersentuhan langsung dengan kehidupan warga; keluhan mereka, kebutuhan mereka, bahkan senyum dan tangis mereka.

Sering terdengar keluhan lirih warga desa, “Pak, tadi saya ke kantor tapi kosong…” atau “Pelayanan tertunda karena perangkatnya tidak hadir.” Mungkin bagi sebagian orang, ini hanya persoalan sepele. Tetapi dalam Islam, amanah sekecil apa pun tetap akan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, perangkat desa, sekecil apa pun jabatannya, tetaplah pemimpin—pemimpin atas pelayanan, pemimpin atas aspirasi warga, dan pemimpin atas hak masyarakat yang datang membawa urusan hidup mereka: urusan tanah, bantuan sosial, kelahiran, kematian, atau sekadar bertanya arah dan meminta petunjuk.
Islam tidak memandang kedudukan dari besar kecilnya jabatan, tetapi dari sejauh mana seseorang menjaga amanah yang Allah titipkan melalui pekerjaannya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mulk ayat 15:
> “Dialah yang menjadikan bumi mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya…”
Ayat ini mengajarkan bahwa rezeki itu harus diusahakan dengan sungguh-sungguh—dengan hadir, bekerja, dan melayani sepenuh hati. Sebab keberkahan tidak pernah turun pada usaha yang setengah-setengah.
Gaji mungkin tetap cair setiap bulan, meski hadir tidak tepat waktu, meski pelayanan sering tertunda. Tetapi apakah rezeki itu benar-benar halal dan berkah? Apakah membawa ketenangan atau justru menjadi beban di hari hisab?
Renungkanlah…
Rezeki bukan hanya tentang jumlah, tetapi tentang doa dan keberkahan yang menyertainya.
Bayangkan jika seorang warga pulang dari kantor desa dengan kecewa karena tidak terlayani. Bisa jadi tanpa kita sadari, kekecewaan itu menjadi tabir antara kita dan keberkahan.
Namun sebaliknya, ketika seorang perangkat desa bekerja dengan tulus dan ikhlas—menyambut warga dengan senyum, melayani dengan sabar, mengurus berkas tanpa mengeluh—maka setiap langkahnya berubah menjadi ibadah.
Setiap tanda tangan menjadi sedekah.
Setiap sapaan menjadi pahala.
Setiap jam kerja menjadi saksi di hari akhir, bahwa tugasnya bukan sekadar profesi, tetapi ladang pahala.
Menjadi perangkat desa bukan hanya sebuah pekerjaan, melainkan amanah mulia dan ladang amal. Peluang kebaikan terbuka setiap hari—melalui pelayanan, kejujuran, ketepatan waktu, dan kesungguhan dalam bekerja.
Tinggal bagaimana kita menjalaninya:
❓ Apakah sebagai rutinitas yang dipaksakan?
❓ Atau sebagai tanggung jawab yang membangun negeri dan mengundang ridha Ilahi?
Pada akhirnya, kita tidak hanya hidup dari gaji.
Kita hidup dari doa masyarakat, keberkahan usaha, dan ridha Allah SWT.
Dan ridha itu hanya turun kepada mereka yang menjaga amanah, berkata jujur, hadir tepat waktu, dan bekerja sepenuh hati tanpa menunda pelayanan.
Karena rezeki yang halal bukan hanya yang kita terima,
tetapi yang membuat hidup tenang, lapang, dan membawa doa-doa baik dari orang-orang yang kita layani.
Wapim Redaksi — Dedi Rohendi
